Tampilkan postingan dengan label Keharmonisan rumah tangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keharmonisan rumah tangga. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Januari 2014

Selalu Menjaga Keharmonisan Rumah tangga

Selalu Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga


Keharmonisan adalah kata-kata terindah yang menjadi impian setiap pasangan insan manusia. Selaras dalam perjalanan hidup berdua mengarungi bahtera rumahtangga kan jadikan kuat ikatan dan rasa saling memiliki. Berikut ini sebuah tulisan yang sangat berharga dari ustadz Abu Ihsan Al-Atsari dalam bukunya


Kiat menjaga keharmonisan rumah tangga antara lain adalah sebagaimana penjabaran beikut :


1. Memperlakukan istri dengan baik merupakan perkara yang dianjurkan oleh syariat. Seorang suami wajib memperlakukan istrinya dengan baik serta banyak bersabar dan lapang dada dalam menghadapinya, apalagi jika usia si istri masih belia. Hal itu berdasarkan sebuah hadits riwayat ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha ia berkata:

“Demi Allah, saya melihat Rasulullah berdiri di depan pintu kamarku sementara orang-orang Habasyah bermain-main tombak di masjid, Rasulullah menyitariku dengan selendangnya agar aku dapat menyaksikan permainan mereka dari balik telinga dan leher pundak beliau, beliau tidak beranjak sehingga aku puas dan beranjak dari situ. Beliau memperlakukanku sebagaimana seorang gadis muda belia yang masih senang permainan.” }Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (IX/255), Muslim (VI/183-184), An-Nasai (III/193-196), Ahmad (VI/166, 247) }

Hal itu berdasarkan sabda nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

«أكمل المؤمنين إيماناً أحسنهم خلقاً، وخياركم خياركم لنسائكم».

“Sesungguhnya orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan yang terbaik diantara kamu adalah yang paling baik terhadap istrinya.”{Hadits shahih riwayat At-Tirmidzi (IV/325), Ahmad (II/250, 472), Ibnu Hibban (1311, 1926) }

2. Pada suatu ketika ‘Aisyah ikut bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah lawatan. ‘Aisyah berkata: “Pada waktu itu aku masih seorang gadis yang ramping. Beliau memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Mereka pun berangkat mendahului kami. Kemudian beliau berkata kepadaku: “Kemarilah ! sekarang kita berlomba lari.” Aku pun meladeninya dan ternyata aku dapat mengungguli beliau. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya diam saja atas keunggulanku tadi. Hingga dalam kesempatan lain, ketika aku sudah agak gemuk, aku ikut bersama beliau dalam sebuah lawatan. Beliau memerintahkan rombongan agar bergerak terlebih dahulu. Kemudian beliau menantangku berlomba kembali. Dan kali ini beliau dapat mengungguliku. Beliau tertawa seraya berkata: “Inilah penebus kekalahan yang lalu !” {Hadits shahih riwayat Abu Dawud (VII/243), Ibnu Majah (I/610), Ahmad (VI/39, 264, 280) }

Masih dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha ia berkata:
“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berkata kepadaku:
“Aku tahu kapan engkau senang padaku dan kapan engkau marah padaku”
“Dari mana engkau mengetahuinya?” tanya ‘Aisyah.
Rasul menjawab: “Jika engkau senang padaku maka engkau akan berkata: “Tidak, demi Rabb Muhammad! Sedang jika engkau marah padaku maka engkau akan engkau akan berkata: “Tidak, demi Rabb Ibrahim!”
“Benar, yang kuhindari hanyalah menyebut namamu!” aku ‘Aisyah. {Hadits shahih riwayat Al-Bukhari (IX/325 & X/497), Muslim (XV/202-203), Ahmad (VI/61) dari jalur ‘Urwah dari ‘Aisyah}

3. Diantara bukti kesempurnaan iman adalah memberi nafkah kepada keluarga (anak dan istri). Tidak membiarkan mereka hingga terlantar tak terurus. Sebab hal itu merupakan kezhaliman yang sangat besar. Berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Amr dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berikut ini: “Cukuplah seseorang menuai dosa apabila ia menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya (keluarganya).” { Hadits shahih riwayat Abu Dawud (II/132), Ahmad (II/160, 193, 195) }

4. Jika si suami seorang yang kikir terhadap anak dan istrinya, maka si istri boleh mengambil harta suaminya tanpa sepengetahuannya, dengan syarat harus digunakan secara baik, bukan untuk menghambur-hamburkannya sebab hal itu adalah kelaliman. Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha:
“Hindun Ummu Mu’awiyah mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya Abu Sufyan seorang suami yang kikir, apakah saya boleh mengambil hartanya tanpa sepengetahuannya?” Rasulullah menjawab:
“Ambillah dari hartanya untuk memenuhi kebutuhanmu dan kebutuhan anak-anakmu dengan cara yang ma’ruf.” { Hadits shahih riwayat Al- Bukhari (IV/405 & V/107 & VII/141 & IX/504-507, 514, XI/525, XIII/138-139, 171), Muslim (XII/7-10), Abu Dawud (VII/290), An-Nasai (VIII/246-247), Ibnu Majah (2293) }

Beberapa orang yang tidak meneliti masalah ini dengan cermat berkata: “Hadits ini bertentangan dengan sabda nabi:

«أَدّ الأمانةَ إلى من إئتمنكَ، ولا تخنْ من خانكَ».

“Tunaikanlah amanah kepada orang yang mengamanahimu dan janganlah khianati orang yang mengkhianatimu.” { Hadits shahih riwayat Abu Dawud (3535), At-Tirmidzi (1264), Ad-Darimi (II/178), Al-Bukhari dalam Al-Kabir (II/2/360) }
Mengambil harta suami tanpa seizinnya merupakan khianat. Hal itu telah dilarang berdasarkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah.”

Kita jawab: “Masalahnya bukan sebagaimana yang mereka duga. Apa yang dimaksud oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits Hindun tidak sebagaimana yang beliau maksud dalam hadits di atas. Alim Ulama telah menyebutkan bahwa barangsiapa yang memiliki hak ditangan orang lain lalu ditahan oleh orang tersebut, maka ia boleh mengambil sesuatu dari harta orang tersebut sebagai pengganti haknya yang ditahan. Sebagaimana dimaklumi bahwa di rumah suami yang kikir tentunya tidak tersedia sandang pangan dan segala kebutuhan yang wajib disediakannya untuk anak dan istri. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberi izin kepada Hindun untuk mengambil sekadar kebutuhannya dan anak-anaknya. Sementara hadits di atas (Tunaikanlah amanah………) maksudnya adalah tidak mengkhianati amanah setelah kebutuhannya dicukupi. Adapun mengambil sekadar kebutuhan, hal itu memang diizinkan oleh syariat. Oleh sebab itu, hadits Hindun tersebut tidaklah termasuk perkara yang dilarang dalam hadits terdahulu.” Wallahu a’lam.

5. Berpura-pura terhadap kaum wanita termasuk sikap seorang lelaki yang bijak. Kadang kala seorang lelaki menyembunyikan sesuatu yang apabila diungkapkannya terus terang kepada istrinya maka suasana akan bertambah kacau. Hal ini harus dimaklumi karena wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda:

«.. واستوصوا بالنساء خَيراً فإِنهنَّ خُلِقنَ من ضِلَع، وإنَّ أعْوَجَ شيءٍ في الضلَع أعلاه، فإِن ذَهبتَ تُقيمه كَسَرتَه، وإن تركتَهُ لم يَزَل أعوجَ، فاستَوصوا بالنساء خَيراً».

“Berbuat baiklah kepada kaum wanita. Sebab mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Yang paling bengkok dari tulang rusuk itu adalah bagian atasnya. Jika engkau berusaha meluruskannya maka engkau akan mematahkannya, jika biarkan maka ia akan tetap bengkok. Maka dari itu berbuat baiklah kepada kaum wanita.” { Hadits shahih Al-Bukhari dan Muslim, At-Tirmidzi (I/223), Ad-Darimi (II/148), Ahmad (II/428, 449, 530) }

dikutip dari Bekal-bekal Menuju Pelaminan, Penerjemah: Abu Ihsan Al-Atsari,At-Tibyan Solo

( Anik Susilawati )


Trima kasih atas kunjungan Anda.

keharmonisan dalam rumah tangga

Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga


Keharmonisan rumah tangga memang harus senantiasa dijaga. Karena keutuhan sebuah keluarga dalam sebuah rumah tangga dengan berjalannya waktu ada saja onak duri yang selalu merintangi bahkan bisa mengganggu kerukunan kehidupan dalam suami istri. Untuk itulah pembentukan keluarga hendaknya diniatkan untuk menyelenggarakan kehidupan keluarga yang penuh dengan semangat mawaddah wa rahmah dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah dan mendambakan keridhaannya, limpahan hidayah dan taufiq-Nya.

Kehidupan keluarga yang didasari oleh niat dan semangat beribadah kepada Allah, insya Allah keluarga yang demikian akan selalu mendapat perlindungan dalam mendapatkan tujuan-tujuannya yang penuh dengan keluhuran dalam sebuah bingkai tali pernikahan yang suci dan di ikat dengan janji suci pernikahan. Untuk itulah diperlukan cara tips menjaga keharmonisan rumah tangga itu sendiri.

Keharmonisan adalah merupakan suasana yang selalu didambakan setiap pasangan suami-istri. Hubungan yang harmonis akan membuat pasangan suami istri mampu menghadapi apapun situasi yang terjadi. Kemesraan yang sudah terjalin pun akan selalu terjaga dan tetap hangat. Rumah tangga terhindar dari cekcok dan pertengkaran serta juga konflik. Sehingga nantinya akan tercipta dan terbina keluarga yang bahagia.


Keluarga sakinah mawaddah warahmah adalah keluarga yang senantiasa berusaha untuk tetap menjaga perasaan cinta dan kasih sayang yang tulus terhadap suami/istri, cinta terhadap anak, juga cinta pekerjaan yang merupakan kewajiban memberikan nafkah dan pendapatan yang halal yang diberikan kepada keluarganya, anak istrinya. Perpaduan cinta suami-istri ini akan menjadi landasan utama dalam berkeluarga. Dalam hal ini Islam juga mengajarkan agar suami memerankan tokoh utama dan istri memerankan peran lawan yaitu menyeimbangkan karakter suami.

Berikut beberapa kiat menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangga yaitu :

1. Saling menghargai antara pasangan suami istri.

Suami mengetahui dan menjalankan apa yang telah menjadi kewajiban dan juga haknya sebagai suami. Demikian pula sang istri. Mampu untuk menjalankan kewajiban seorang istri dan juga memperoleh apa yang menjadi haknya sebagai istri dan ibu dari anak-anak suaminya. Ini adalah merupakan salah satu ciri-ciri keluarga harmonis menurut Islam.

2. Menjaga hubungan baik suami istri.

Dalam hubungan rumah tangga yang harmonis dan seimbang suami istri berupaya saling melengkapi dan menyempurnakan. Mereka menyatu dan ikut merasakan apa yang dirasakan anggota keluarga yang lain. Mereka saling mengobati, saling membahagiakan dan menyatukan langkah dan tujuan, keduanya menyiapkan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.

3. Jangan malu untuk mengatakan cinta.

Perbanyaklah mengunggkapkan perasaan sayang dan cinta kepada pasangan. Tentunya yng benar-benar tulus dari lubuk hati yang dalam. Bukan hanya sekedar pemanis bibir saja. Dilakukan kepada pasangan masing-masing. Meskipun hal ini terlihat sederhana ternyata banyak pasangan yang masih sungkan mengatakan hal tersebut kepada pasangannya, padahal kata-kata cinta dapat menambah kemesraan dan keharmonisan rumah tangga. Dan jangan melupakan pula untuk memberikan kecupan kasih sayang baik kepada istri maupun pada anak-anak.

4. Saling percaya satu sama lain.

Ini juga merupakan salah satu modal utama yang harus dimiliki para pasangan hidup. Kita harus bisa menjaga kepercayaan yang diberikan pasangan hidup kita. Jangan sekali pun mengkhianati perasaan pasangan kita. Jagalah kepercayaan ini dengan baik. Baik kita maupun pasangan hidup kita hendaknya berjalan lurus sesuai tuntunan agama, maka yang akan tumbuh adalah rasa saling percaya dan tidak berfikiran buruk sangka terhadap pasangan.

5. Menerima kekurangan dan kelebihan pasangan hidup.

Di dunia ini, tentu saja tidak ada manusia yang sempurna. Apalagi manusia adalah tempat salah dan lupa. Rasanya kurang bijak, jika menganggap pasangan hidup kita seperti malaikat yang tak punya dosa. Yakinlah, di balik kekurangan pasangan hidup kita, pasti Allah SWT ciptakan berbagai kelebihannya. Jangan pernah sekali-kali membandingkan pasangan hidup kita dengan pasangan hidup orang lain. Yakinlah, pasangan hidup yang dipilihkan Allah untuk kita, adalah yang terbaik, Insya Allah.

6. Membuang jauh berbagai perasaan negatif.

Perbedaan sikap dan pemikiran dalam sebuah keluarga adalah hal yang tak dapat terelakkan. Namun seiring dengan perjalanan waktu, perbedaan itulah yang justru memperkuat dan memperdalam cinta pasangan suami istri. Upayakan untuk selalu mengomunikasikan perasaan kita tanpa harus menjadi agresif atau defensif terhadap suatu masalah keluarga yang timbul.

Trima Kasih atas kunjungan Anda.